Peta Dalam Sejarah Islam Dan Dunia

Peta Dalam Sejarah Islam Dan Dunia
Pakarsejarah.com – Didasari keinginan berekspansi dan tujuan perdagangan, eksplorasi Eropa melengkapi misi mereka dengan pembuatan kapal dan teknik komersial. Mereka memburu pasar baru dan wilayah-wilayah legendaris penghasil logam berharga serta komoditas lainnya. Penjelajah asal Italia, Christoper Columbus, menandai awal periode eksplorasi Eropa itu. Ia dipandu alat navigasi yang telah muncul dan berkembang jauh sebelum ia memulai perjalanan lautnya pada 1492. Alat itu banyak berupa buku-buku panduan dan grafik, bentuk empirisasi keahlian intuitif para penjelajah lautan. Selanjutnya, ilmu navigasi semakin berkembang dengan penemuan alat-alat perkapalan yang canggih.
Kontribusi orang-orang Muslim dan Yahudi dalam pembuatan peta peralatan navigasi adalah hal krusial dalam inovasi-inovasi itu. Dan, di antara tahap penting perkembangan dunia navigasi tersebut adalah pembuatan peta, yang juga dikenal dengan kartografi. Peta tertua adalah peta yang dibuat di atas papan dari tanah liat di Babilonia, diperkirakan berasal dari masa 3000 tahun SM. Kemudian, perkembangan keterampilan melukis peta terus berlanjut hingga era Yunani dan Romawi. JS Aber (2004) dalam Brief History of Maps and Cartographymenuliskan, kartografi atau pembuatan peta merupakan ilmu yang cukup maju di Yunani kuno pada masa itu.

Pada masa Aristoteles (350 SM), konsep bahwa bumi berbentuk bulat telah dikenal luas di kalangan filsuf Yunani dan para ahli geografi menerimanya sebagai kebenaran sejak itu. Lantas, bagaimana kontribusi umat Islam di bidang ini? Menurut pakar geografi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Suratman MSc, kontribusi itu tentu sangat besar. Sejarah mencatat bagaimana para saudagar Muslim menyebar ke berbagai belahan dunia untuk berdagang dan berdakwah. Perjalanan mereka membawa aspek kartografis, di mana mereka mencatat dan menggambarkan perjalanan mereka itu. Selain itu, catatan yang mereka buat juga mengandung ilmu tentang bagaimana mereka hidup dengan alam mereka, dengan syiar mereka. Mereka memberi kita peninggalan-peninggalan yang berperan penting dalam perkembangan kartografi dunia. Ke depan, ia berharap, kartografi dapat terus dikembangkan, baik secara akademis maupun praktis. Jika dulu, peta berguna untuk mempermudah penaklukan atau pendudukan terhadap wilayah tertentu, kini ia harus bisa digunakan untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah yang kita miliki dan membangunnya.

Baca Juga  : Sejarah Ekonomi Islam Di Dunia Dan Indonesia

Jadi jika tanpa Islam anti akan menjadi Indonesia yang atheis Indonesia tanpa Tuhan. Seperti diketahui, hubungan dalam Islam menyeberangi sekat-sekat kewilayahan. Bagaimana hubungannya dengan sekat nasionalisme itu? Islam itu kan sifatnya universal dan akan memberi ciri universal yang bisa menyambungkan satu umat Islam satu dengan umat Islam yang lain. Nah, makna nasionalisme di dalam Islam, Islam bisa mewarnai keindonesiaan. Maksudnya adalah Islam ini bisa memberikan identitas kepada Indonesia. Identitas yang di situ akan kelihatan Indonesianya, karena Indonesia punya ciri khas tentu saja. Kalaupun pada saat yang sama ketika dia punya ciri khas Indonesia, tetapi tetap punya nilai universal Islam. Nilai universal Islam itu adalah suatu konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan dari Alquran dan Sunnah, sebagai dasar dari ajaran Islam. Dan juga ijtihad para ulama yang lintas batas, lintas negara. Ini yang nanti akan mengikat universalitas masyarakt islam di seluruh negara. Jadi tidak usah khawatir kalau misalnya Indonesia punya ciri khas keindonesiaan, tetapi dia ada Islam di dasarnya.

Maka secara otomatis akan bisa menyambung dengan umat Islam di mana saja. Sekarang juga sudah kelihatan, misalnya orang Islam Indonesia yang punya ciri khas keindonesiaa tapi bisa nyambung dengan orang Afganistan, orang Pakistan, orang Arab, dengan di mana saja. Tidak ada sekat-sekat tidak ada barrier nasionalisme. Apalagi sekarang jaman kosmopolitan orang-orang sudah biasa berpindah-pindah tempat atau mungkin berganti-ganti kenegaraan, sudah tidak ada halangan lagi. Sehingga nasionalisme yang diasaskan kepada keislaman itu tidak akan menjadi nasionalisme yang eksklusif. Justeru akan menjadi nasionalisme yang punya basic, untuk bergabung dengan yang lain. Dan inilah nanti yang akan menjadi kekuatan berdirinya satu kekuasaan Islam yang sifatnya mendunia. Nah itulah yang nanti menjadi suatu kekuatan dunia baru yang akan menyaingi kekuatan kekuatan-kekuatan lain. Dulu juga sama sebenarnya di zaman kekhalifahan Islam, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah itu kan setiap wilayah itu meskipun Islam tetapi ada khasnya. Misalnya orang Islamnya orang India punya ciri khas, Islamnya orang Indonesia itu khas, Islamnya orang Turki juga khas.