Ini Dia Sejarah Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW

Ini Dia Sejarah Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW
Pakarsejarah.com – Perayaan ini umumnya dilaksanakan oleh umat islam hampir di seluruh dunia. Bertepatan tanggal 12 rabiul awal menjadi peringatan maulid nabi muhammad SAW. Kebanyakan umat islam yang merayakan maulid nabi adalah negara negara islam, seperti iran, indonesia, malaysia, australia, thailand, afrika dll. Maulid nabi ini ditujukan agar umat islam yang sekarang bisa mengetahui apa saja yang diperintahkan oleh nabi Muhammad SAW. Agar umat islam yang terpecah belah ini kembali ke sunnah dan mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW. Atas dasar kecintaan umat islam kepada nabi muhammad SAW, beberapa umat islam pun membuat perayaan atas peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW. Ada Beberapa kalangan berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M).
Shalahuddin disebut menganjurkan umatnya untuk melaksanaan perayaan Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum Muslim. Kala itu, Shalahuddin dan umat Islam memang berada dalam fase berperang melawan pasukan atau tentara Salib. Kendati demikian, pendapat tersebut juga masih diperdebatkan. Mereka yang menolak bahwa Shalahuddin sebagai pelopor maulid beralasan, tidak ditemukan catatan sejarah yang menerangkan perihal Shalahuddin menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari perjuangannya dalam Perang Salib.

Menurut beberapa pakar sejarah Islam, peringatan dan perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Dinasti Ubadiyyun atau disebut juga Fatimiyah (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Al Maqrizi, salah satu tokoh sejarah Islam mengatakan, para khilafah Fatimiyah memang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Antara lain perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Ali Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Syaban, perayaan malam pertama Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan malam Al Kholij, perayaan hari Nauruz (tahun baru Persia), dan lainnya. Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. Asy Syekh Bakhit Al Muti’iy, seorang mufti dari Mesir, dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal.44) juga menyebut, yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah Maulid Nabi adalah Al Mu’izh Lidnillah (keturunan Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyah) pada 362 Hijriah.

Selain mereka, dalam beberapa buku sejarah juga disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah memang yang menginisiasi perayaan Maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya, pemerintahan Fatimiyah berdiri pada 909 Masehi di Tunisia. Enam dekade kemudian, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, Mesir. Dua tahun setelah masuknya Shalahuddin al-Ayubbi ke Mesir, yakni sekitar tahun 1171, Dinasti Fatimiyah runtuh. Adanya perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin. Walau terdapat simpang siur kapan awal mula nya maulid nabi. Yang bisa kita ambil hikmahnya adalah, dengan acara maulid nabi ini kita bisa mengenal nabi muhammad SAW dan juga para sahabatnya.

Baca Juga  : Perkembangan Study Islam Di Dunia Barat

Sehingga hal ini menjadi point penting dalam pemersatu umat islam yang ada didunia. Begitu juga peringatan maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriah, remaja Masjid At Tamini Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya menggelar lomba ke agamaan, yang puncaknya digelar di Masjid At Tamini, Sungai Kupah Sabtu (2/12/2017) siang. Dalam puncak kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, juga diisi dengan tausiah Ustaz Hamdani Sulma yang disimak antusias ratusan jemaah. Hamdani Sulma dalam tausiahnya menyampaikan beberapa pesan di antaranya, mengajak peran orangtua, dalam menciptakan generasi yang Islami dan berakhlak mulia sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Semasa berlangsungnya perang tersebut, Rufaida binti Sa’ad memimpin sejumlah kelompok perawat di medan perang untuk menyediakan pertolongan pengobatan. Bahkan Rasulullah menganjurkan supaya para prajurit yang terluka dibawa ke tenda Rufaidah agar segera mendapatkan perawatan. Sangat sedikit sekali literatur yang membahas mengenai Al-‘Ijliya, bahkan Al-Fihrist yang ditulis oleh Ibnu al-Nadim, salah satu buku yang memuat informasi mengenai Al- ‘Ijliya, tidak menyinggung banyak hal mengenai dirinya. Lalu siapa sebenarnya Al-‘Ijliya? Dalam Al-Fihrist bagian informasi mengenai ahli matematika, teknisi, praktisi aritmatika, musisi, ahli hitung, astrolog, pembuat alat, mesin dan automata, Ibnu al-Nadim menuliskan daftar teknisi, seniman, dan pembuat peralatan astronomi yang terdiri dari 16 nama dan Al-‘Ijliya merupakan satu-satunya wanita dalam daftar tersebut.

Al-‘Ijliya merupakan putri dari seorang ahli pembuat instrument/peralatan, dan sebagaimana ayahnya, ia juga merupakan bagian dari kelompok teknisi dan pembuat alat astronomi yang hidup pada abad kesembilan sampai kesepuluh. Al-‘Ijliya bekerja di tempat Sayf al-Dawla di Aleppo, dan ia merupakan murid dari Bitolus, yang mengajarinya berbagai hal tentang profesi tesebut, pembuat peralatan astronomi.