Tokoh Sejarah

Pakar Teknologi Muslim Pakar Teknologi Muslim

Pakarsejarah.com – Jasa kehebatan dari pakar teknologi muslim memang membawa dampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga tahu kalau dunia teknologi selalu penuh dengan para penemu dan pencetus ide serta pemikiran yang inovasi. Siapa sangka kalau dibalik penemuan dan semakin canggihnya industri teknologi saat ini merupakan sentuhan para pakar Muslim di belakangnya. Sehingga hal ini membuktikan kalau para pakar teknologi muslim tidak kalah dan patut diakui dalam perkembangan teknologi, seperti para ilmuan Barat. Nah, kali ini kami akan memberikan informasi mengenai beberapa pakar teknologi muslim yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia teknologi. Ilmuan yang sangat berpengaruh terhadap dunia teknologi yaitu Ibnu -ul- Haytham. Pakar ilmuan ini merupakan tokoh yang berhasil menciptakan optik. Kini penemuannya sangat berguna digunakan dalam perangkat kamera. Kamera merupakan sebuah produk yang sangat berharga. Melalui bidikan kamera, manusia mampu mengabadikan momen dalam bentuk gambar maupun video. Saat ini perkembangan teknologi pada kamera dikuasai oleh para ilmuan Barat dan Jepang.

Dalam sejarah kamera, bangsa Barat menyebutkan kalau perkembangan teknologi kamera pertama kali dirintis oleh kepler yang telah mengklaim menemukan kamera Obscura pada tahun 1611 Masehi. Namun sebenarnya pada akhir era ke-10 M, Ibnu Al Haitham lebih dulu menemukan kamera Obscura yang digunakan untuk mempelajari gerhana matahari. Produk kamera yang diciptakan oleh Al Haitham ini bekerja dalam pencitraan simple, dimana terdapat lubang kecil pada dinding untuk melihat gerakan matahari yang mampu diproyeksikan melalui permukaan datar. Hasil penelitian ini kemudian ditulis oleh Al Haitham dalam sebuah kitab al Manazir atau buku optik. Diduga buku tersebut dibaca oleh Kepler dan dikembangkan dengan proyeksi gambar yang lebih besar dengan memakai lensa negatif di bekalang lensa positif. Itulah salah satu karya milik Al Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat berpengaruh ini sukses dikerjan, berbarengan dengan kamaluddin al Farisi. Kedua pakar ini sukses mempelajari fenomena kamera obscura. Penemuan tersebut berawal dari keduanya yang sama-sama mempelajari gerhana matahari. Kajian mengenai pengetahuan optik ini yang akhirnya mampu memicu kemampuan kamera saat ini yang digunakan oleh manusia. Dunia mengetahui kalau al Haitham sebagai perintis dalam bidang optic yang populer melalui karya bukunya kitab al- Manazir.

Perkembangan teknologi semakin maju, pada masa Perang Dunia I, satu versi kamera obscura digunakan untuk melihat pesawat terbang dan untuk pengukuran kemampuan. Pada masa Perang Dunia II, kamera obscura ini juga digunakan untuk mengecek keakuratan navigasi perangkat radio. Itulah penciptaan kamera Obscura yang diraih oleh Haitham yang mampu merubah peradaban dunia. Peradaban modern sudah pastinya begitu berhutang budi terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh Al Haitham. Mengingat beliau telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah sepanjang hidupnya. Semua itu dilakukan demi perkembangan peradaban manusia. Namun sangat disayangkan kalau kaum Muslim lebih memilih kagum terhadap pencapaian teknologi barat. Hal ini tentunya juga kurang menghormati dan menghargai apa yang telah dicapai oleh para pakar teknologi muslim pada masa kejayaan Islam. Ilmuan muslim yang berhasil menemukan alat bisa terbang adalah Abbas Bin Firnas. Ilmuan muslim ini merupakan orang pertama yang berhasil membuat kontruksi alat yang mampu terbang. Abbas Qasim Ibnu Firnas lahir pada tahun 810 di Izn- Rand Onda (kini Spanyol).

Baca Juga  : Islam Arab Atau Islam Cina?

Beliau dikenal dengan ahli dalam disiplin ilmu, ahli kimia, penemu, humoris, musisi, penulis puisi, ahli ilmu alam dan seorang penggiat teknologi. Pakar teknologi muslim keturunan Maroko ini hidup pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia, Spanyol. Tepatnya pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Abbas Bin Firnas ini memutuskan untuk melakukan uji coba terbang. Berhasil membuat benda yang menyerupai burung, semacam sayap dari jubbah yang disangga menggunakan kayu. Pada saat percobaannya Abbas berhasil menerbangkan benda tersebut di Cordoba, Spanyol. Benda tersebut mampu melayang di udara sebentar dan mampu memperlambat jatuhnya. Beliau pun juga berhasil merasakan terbang dan berhasil mendarat walau dengan cidera ringan. Alat yang digunakan oleh Abbas bin Firnas ini yang saat ini dikenal dengan parasut pertama di dunia. Keberhasilannya tidak membuat Firnas berpuas diri. Setelah percobaan tersebut Firnas melakukan serangkaian pengembangan konsep dan penelitian serta menggabungkan teori dari gejala alam yang sudah sering diperhatikan. Pada tahun 875, Firnas sudah menginjak usia 65 tahun namun semangatnya tidak pernah surut. Ibnu Firnas telah membuat dan merancang sebuah mesin terbang yang bertujuan untuk mengangkut manusia.

Setelah produknya selesai dibuat, Firnas sengaja untuk mengundang orang Cordoba untuk menyaksikan penerbangan yang bersejarah di Jabal Al-Arus, Rusafa. Penerbangan yang dilakukan dapat dikatakan sangat sukses dan sesuai harapan. Namun, karena hal dalam meluncur yang kurang baik maka Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat buatannya. Atas kejadian tersebut Ibnu Firnas mengalami cidera punggung yang parah. Atas cidera yang dialaminya maka Firnas tidak mampu melanjutkan penelitiannya. Penyebab terjadinya kecelakaan tersebut adalah Ibnu Firnas lupa tidak memperhitungkan dan memperhatikan burung ketika melakukan pendaratan. Beliau lupa menambahkan ekor pada badan pesawat layang buatannya. Ketika Ibnu Firnas tidak mampu melajutkan penelitian pesawat terbang maka mengantarkan dirinya untuk melanjutkan penelitian di laboratorium. Seperti ciri khasnya selalu melakukan penelitian sesuai gejala alam seperti mempelajari meknisme terjadinya sebuah kilat dan halilintar. Selain itu Ibnu Firnas menentukan table astronomis dan merancang jam air yang dikenal dengan Al-Maqata. Selain itu yang lebih menarik dari pakar teknologi muslim, Ibnu Farnas adalah dirinya mampu berhasil mengembangkan proses pemotongan batu Kristal yang dulunya hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuan Ibnu Farnas,pada waktu itu Spanyol tidak lagi melakukan ekspir quartz ke Mesir karena negaranya mampu menyelesaikan sendiri.

Tokoh Ahli Geografi Islam - Tokoh Ternama Tokoh Ahli Geografi Islam - Tokoh Ternama

Pakarsejarah.com – Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan pernah dirasakan umat Islam berabad-abad lampau. Ketika itu, banyak ilmuwan dan cendekiawan Muslim mengharu biru jagad keilmuan dunia yang hingga kini pun karya-karya mereka masih menjadi bahan rujukan. Dalam kaitan ini, seorang Muslim bernama al-Ya’qubi terkenal sebagai ahli di bidang ilmu geografi. Sejarah mencatat, dia hidup di Baghdad pada masa pemerintahan khalifah Abbasiyah, al-Mu’tamid (257 H/870 M – 279 H/892 M). Selain pakar pada bidang geografi, al-Ya’qubi juga dikenal sebagai seorang sejarawan dan pengembara. Tidak diketahui secara pasti tanggal lahir dari tokoh bernama lengkap Ahmad bin Abi Ya’qub Ishaq bin Ja’far bin Wahab bin Waddih ini. Hanya yang jelas, kakeknya adalah seorang maula’ (budak) khalifah Abbasiyah, al-Mansur. Kariernya terbilang cukup cemerlang di kerajaan. Ia misalnya pernah menjadi sekretaris al-khalifah (negara) Abbasiyah. Ia juga sempat mengadakan pengembaraan panjang ke Armenia, Transoksania (Asia Tengah), Iran, India, Mesir, Hedzjaz (Hijaz) serta Afrika Utara. Dalam pengembaraannya tersebut banyak informasi mengenai sejarah dan geografi yang ia peroleh. Berdasarkan pengalamannya pergi ke sejumlah negara, maka pada tahun 891 al-Ya’qubi menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Buldan (Buku Negeri-negeri).

Buku ini termasuk kitab yang tertua dalam sejarah ilmu geografi dunia. Karenanya, buku tersebut pun lantas diterbitkan kembali oleh sebuah penerbit di Leiden, Belanda, dengan mengambil judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae. Di samping itu, bagi negara-negara yang dikunjungi dan termuat dalam buku tadi, merupakan informasi kesejarahan tidak ternilai. Pada awal bukunya, al-Ya’qubi menerangkan secara terperinci kota Baghdad dan Samarra (utara Baghdad). Setelah itu berturut-turut ia menggambarkan mengenai negeri Iran, Semenanjung Arabia, Suriah, Mesir, Nubia (utara Sudan), Afrika Utara dan lainnya. Tak hanya mengenai geografi wilayah, buku itu juga menerangkan tentang keadaan sosial dan sejarah dinasti-dinasti yang sedang berkuasa di masing-masing negeri.

Ada satu buku karyanya lagi yang juga terkenal, yakni Tarikh al-Ya’qubi, buku ini pun sudah diterbitkan kembali di Leiden dalam dua jilid. Dalam bukunya al-Ya’qubi masih mempertahankan ciri khasnya, yakni kronologis yang akurat. Pada jilid pertama, difokuskan pada sejarah dunia kuno, seperti peristiwa-peristiwa yang berhubungan pada penciptaan alam semesta, Nabi Adam AS dan putra-putranya, peristiwa banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS dan masih banyak lagi. Kemudian ia melukiskan sejarah kerajaankerajaan kuno, semisal Assyria, Babylonia, Abessinia, India, Yunani, Romawi, Persia, Cina, Armenia dan lain-lain.

Dalam setiap kali melukiskan kerajaan-kerajaan itu, dia kerap mengdeskripsikan keterangan geografis, iklim, agama serta kepercayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan mereka, termasuk filsafat dan kebudayaannya. Sementara jilid kedua, berisi sejarah Islam yang disusun berdasarkan urutan para khalifah, hingga tahun 259 H pada masa pemerintahan al-Mu’tamid. Diawali dengan kelahiran, riwayat hidup serta perang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, baru kemudian tentang para khalifah. Di samping dua buku tadi, al-Ya’qubi juga meninggalkan sebuah makalah yang merupakan penggalan lain dari Tarikh al-Ya’qubi yang diterbitkan oleh Matbaah an-Najaf al-Asyraf di Irak dan sebuah karya singkat berjudul Musyakalah an-Nass li Zamanihim (Kesamaan Manusia pada Masa Mereka).

Baca Juga  : 10 Ilmuwan Muslim Dan Penemuannya Untuk Peradaban Manusia

Buku yang satu ini –sudah diterbitkan kembali di Beirut– membahas bagaimana masyarakat berusaha mengikuti dan mencontoh kehidupan para penguasa, terutama tentang para khalifah Umayyah dan Abbasiyah. Kitab al-Buldan bisa disebut sebagai kitab paling berharga dalam bentuk karya rihlah (pengembaraan) dan ilmu geografi. Di dalamnya dijelaskan pengembaraan yang dia lakukan dan tugas-tugas negara yang dia emban, yaitu pada masa dinasti Tahiriah di Khurasan dan dinasti Tulun di Mesir dan Suriah, di samping sejumlah informasi yang dikutipnya dari yang lain.

Al-Ya’qubi menggunakan langgam sejarah sendiri tanpa mengikuti langgam sejarah sebelumnya. Ia juga berusaha mengembangkan pendekatan eksperimental dalam menulis. Pengembaraan al-Ya’qubi ke Transoksania memberikan manfaat besar bagi generasi berikutnya. Misalnya, ia menyaksikan langsung bagaimana para khalifah Abbasiyah mengambil anak-anak berkebangsaan Turki dan Fergana di Turkistan, dan menuangkannya dalam buku al-Buldan. Ia berkata, “Ekspansi Islam sudah sampai ke negeri Transoksania. Para pegawai di sana mengirimkan hadiah-hadiah kepada khalifah, di antaranya dalam bentuk anak-anak berkebangsaan Turki dan Fergana. Pengambilan seperti itu semakin mudah pada masa al-Mu’tasim karena ibunya berasal dari sana.

Pengambilan anak-anak itu mencapai jumlah ribuan, sebagian dibeli dan sebagian lagi dalam bentuk hadiah. Jumlah mereka terus bertambah banyak hingga mencapai 18 ribu, semuanya menetap di Baghdad. Penduduk Baghdad menjadi resah karena tingkah laku mereka yang buruk. Sehubungan dengan itu, al-Mu’tasim kemudian mendirikan sebuah kota di sebelah utara Baghdad untuk mereka, yaitu kota Samarra. Sebagian besar mereka kemudian dijadikan tentara.” Setiap kali, al-Ya’qubi menceritakan secara mendetil tentang negeri-negeri yang pernah dikunjunginya. Jalan-jalan digambarkan dengan sangat terperinci, begitu pula ladangladang gandum, perkebunan kurma, taman-taman dan sungai serta sumber-sumber air, sebagaimana ia menggambarkan corak masyarakatnya yang majemuk.

10 Ilmuwan Muslim Dan Penemuannya Untuk Peradaban Manusia 10 Ilmuwan Muslim Dan Penemuannya Untuk Peradaban Manusia
Pakarsejarah.com –  Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini. Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia. Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat.

Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya. Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai dokter pribadi Khalifah Al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang merupakan putra dari Kalifah Abdurrahman III (An-Nasir). Dia melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Kristen di Iberia utara dan menggunakan kondisi yang stabil untuk mengembangkan agrikultur melalui pembangunan irigasi. Selain itu dia juga meningkatkan perkembangan ekonomi dengan memperluas jalan dan pembangunan pasar. Kehebatan Al Zahrawi sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi. Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Sedangkan tulang yang geser, bisa kembali ke tempatnya semula. Tulang yang patah tersebut digips atau dibalut semacam semen. Salah satu karya fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif.

Baca Juga  : Pakar Maroko Nilai Indonesia Tidak Lahirkan Ulama Tingkat Dunia

Kitab tersebut berisi penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi. Dalam penyiapan obat-obatan itu, dia mengenalkan tehnik sublimasi. Kitab Al Tasrif sendiri begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa oleh para penulis. Terjemahan Kitab Al Tasrif pernah diterbitkan pada tahun 1519 dengan judul Liber Theoricae nec non Practicae Alsaharavii. Salah satu risalah buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin oleh Simone di Genova dan Abraham Indaeus pada abad ke-13. Salinan Kitab Al Tasrif juga juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471 dengan judul Liber Servitoris. Risalah lain dalam Kitab Al Tasrif juga diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerardo van Cremona di Toledo pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia. Dengan demikian kitab karya Al Zahrawi semakin termasyhur di seluruh Eropa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya Al Zahrawi tersebut bagi dunia. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di berbagai kampus-kampus. Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa.

Proses pembangunan sistem pakar biasanya disebut dengan rekayasa pengetahuan. Biasanya melibatkan interaksi yang spesial antara orang yang membangun sistem pakar yang disebut teknisi pengetahuan. Biasanya terdapat satu atau lebih pakar dalam lingkup masalah tertentu. Teknisi pengetahuan mengambil informasi dari pakar berupa prosedur, strategi, dan aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah, lalu membangun pengetahuan itu menjadi sebuah sistem pakar, seperti yang ditunjukkan pada skema di bawah ini. Hasilnya adalah sebuah program komputer yang dapat memecahkan masalah dengan cara yang hampir sama seperti para ahli. Paul E. Johnson, seorang ilmuwan yang telah menghabiskan bertahun-tahun waktunya untuk mempelajari perilaku ahli manusia, cukup baik menggambarkan apa yang dimaksud dengan ahli. “Seorang ahli yaitu orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan hal-hal yang kebanyakan orang tidak bisa. Seorang ahli bukan hanya sekedar mahir, tetapi juga lancar mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah. Seorang ahli mengetahui banyak hal dalam menerapkan apa yang mereka ketahui dalam menyelesaikan suatu masalah.

Tokoh Ilmuwan Muslim Dan Peranannya Pada MasaBani Umayyah Sampai Masa Bani Abbasiyah Tokoh Ilmuwan Muslim Dan Peranannya Pada MasaBani Umayyah Sampai Masa Bani Abbasiyah

Pakarsejarah.com – Tokoh Ilmuwan Muslim Dan Peranannya Pada MasaBani Umayyah Sampai Masa Bani Abbasiyah . Sepeninggal kepemimpinan Khulafaur Rasyidin , kepemimpinan Islam dipegang oleh dua Dinasti besar yang mengubah bentuk pemerintahan dari system Demokrasi Islam menjadi Teokrasi atau Monarki kerajaan . Dinasti itu adalah Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah berkeuasa Kurang lebih 90 tahun , sedangkan dinasti Abbasiyah berkuasa kurang lebih 5 abab .perkembangan ilmu pengetahuan dinasti itu sangat berbeda ,karena waktu kepemimpinanya berbeda . Pada masa dinasti umayyah berkuasa, Ilmu pengetahuan dalam Islam baru mulai berkembang . Dinasti Abbasiyah berkuasa , ilmuy pengetahuan dalam islam telah mencapai puncak kejayaannya . Abbasiyah I dan II. Selama masa itu pula , banyak para tokoh ilmuan yang berperan penting dalam mencapai perkembangan dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dalam duani Islam. Selain para Khalifah dinasti Umayyah sendiri , yang turut berperan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa islam bangsa umayyah adalah ilmuan yang hidup dalam masa itu .

Diantara tokoh ilmuan yang berperan penting memajukan ilmu pengetahuan,sosial,dan seni budaya pada masa dinasti umayyah adalah sebagai berikut. 1. Nu’man bin Bashir Al Anshari, wafat pada tahun 65H/684M. ia adalah seorang ahli tata bahasa Aab dan seorang penyair keimanan. 2.Ibnu Magfarah Al Hamiri, wafat pada tahun 69H/689 M. ia adalah seorang pakar ilmu bahasa atau linguistic. 3.Miskin ad Damiry, wafat pada tahun 95H/14M.ia adalah seorang pakar ilmu bahasa atau sastra. 4. Al Ahktal wafat pada tahun 111H/730M. ia adalah seorang penyair terkenal di masanya, yang mempunyai diwan atau syair tersendiri. 5.Jarir,wafat pada tanggal 111H/730M. ia juga adalah seorang penyair yang termasyur pada masa itu. 6. Abul Aswad Ad Dualy,wafat pada 98H/716M. ia adalah seorang pakar bahasa Arab , ahli gramatika,dan linguistic arab. 7. Al Farazdaq, wafat pada tahun 90H/709M. ia adalah seorang penyair terkenal. 8. Abu Najm Ar Rajir, wafat pada 130 H/ 748M. ai adalah seorang pakar bahasa dan sastra.

9. A’sya Rabi ‘ah, wafat pada tahun 85H/705M. ia adalah seorang penyair wanita ternama. 10. Ar-Raj, wafat pada tahun 90h/709M. ia adalah seorang pakar bahasa dan sastra. Al Ulumus Syari’ah, yaitu ilmu-ilmu Agama Islam, seperti Fiqih, tafsir Al-Qur’an dan sebagainya. Al Ulumul Lisaniyah, yaitu ilmu-ilmu yang perlu untuk memastikan bacaan Al Qur’an, menafsirkan dan memahaminya. Tarikh, yang meliputi tarikh kaum muslimin dan segala perjuangannya, riwayat hidup pemimpin-pemimpin mereka, serta tarikh umum, yaitu tarikh bangsa-bangsa lain. Ilmu Qiraat, yaitu ilmu yang membahas tentang membaca Al Qur’an. Pada masa ini termasyhurlah tujuh macam bacaan Al Qur’an yang terkenal dengan Qiraat Sab’ah yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan, yaitu cara bacaan yang dinisbahkan kepad acara membacayang dikemukakan oleh tujuh orang ahli qraat, yaitu Abdullah bin Katsir (w. Ashim bin Abi Nujud (w. Abdullah bin Amir Al Jashsahash (w. Ali bin Hamzah Abu Hasan al Kisai (w. Hamzah bin Habib Az-Zaiyat (w. Abu Amr bin Al Ala (w.

Baca Juga  : Perancangan Ini Menggunakan Teknik Sampling

Ilmu Tafsir, yaitu ilmu yang membahas tentang undang-undang dalam menafsirkan Al Qur’an. Pada masa ini muncul ahli Tafsir yang terkenal seperti Ibnu Abbas dari kalangan sahabat (w. Ilmu Hadis, yaitu ilmu yang ditujukan untuk menjelaskan riwayat dan sanad al-Hadis, karena banyak Hadis yang bukan berasal dari Rasulullah. Diantara Muhaddis yang terkenal pada masa ini ialah Az Zuhry (w. Ibnu Abi Malikah (w. Al Auza’i Abdur Rahman bin Amr (w. Ilmu Nahwu, yaitu ilmu yang menjelaskan cara membaca suatu kalimat didalam berbagai posisinya. Ilmu ini muncul setelah banyak bangsa-bangsa yang bukan Arab masuk Islam dan negeri-negeri mereka menjadi wilayah negara Islam. Adapun penyusun ilmu Nahwu yang pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang adalah Abu Aswad Ad Dualy (w. Beliau belajar dari Ali bin Abi Thalib, sehingga ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai Bapaknya ilmu Nahwu. Ilmu Bumi (al- Jughrafia). Ilmu ini muncul oleh karena adanya kebutuhan kaum muslimin pada saat itu, yaitu untuk keperluan menunaikan ibadah Haji, menuntut ilmu dan dakwah, seseorang agar tidak tersesat di perjalanan, perlu kepada ilmu yang memebahas tentang keadaan letak wilayah.