October 2020

Sejarah Manusia Purba di Indonesia Sejarah Manusia Purba di Indonesia

Sejarah Manusia Purba di Indonesia – Mungkin anda sudah pernah membaca artikel serupa atau sejenis,tapi artikel ini berbeda karena sudah kami ambil dari sumber terpercaya , berikut mengenai sejarah manusia purba di indonesia.  Di Indonesia sendiri penemuan manusia purba pertama sekali didapati di wilayah Jawa, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Manusia purba di Indonesia telah ada sejak zaman quartair atau dapat dikatakan telah hidup sejak 600 ribu tahun yang lalu. Zaman quartair terbagi menjadi 2 bagian, yang pertama disebut zaman Dilluvium (pleistocen), sedang zaman kedua disebut zaman alluvium (Holocen). Di Indonesia zaman Dilluvium menurut Dr. Von Koenigswald terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan bawah, lapisan tengah, dan lapisan atas. Yang mana masing-masing lapisan tersebut memiliki fosil manusia purba tersendiri.

1. Dilluvium Bawah
Lapisan ini merupakan lapisan tertua, terdapat 3 jenis fosil manusia purba di dalamnya, yaitu:

Meganthropus Palaeojavanicus, adalah fosil tertua atau banyak yang menyebutnya sebagai manusia purba pertama, fosil ini ditemukan di daerah Sangiran.
Pithecanthropus Dubius, adalah fosil yang belum jelas apakah fosil manusia atau kera, oleh sebab itu fosil ini diberi nama Pithecanthropus Dubius yang berarti manusia kera yang meragukan. Fosil ini didapati di daerah Sangiran juga.
Pithecanthropus Robustus atau Plthecanthropus Mojokertensis adalah fosil yang juga di temukan di daerah Sangiran. Seorang sarjana Weidenreich memberi nama fosil tersebut Pithecanthropus Robustus, sedangkan seorang penemu bernama Von Koenigswald menamai fosil tersebut Plthecanthropus Mojokertensis sebab ia mengatakan bahwa ia pertama kali menemukan fosil tersebut di dataran Mojokerto.

2. Dilluvium Tengah
Dr. Eugene Dubois merupakan tokoh yang menemukan fosil jenis ini, ia mengatakan bahwa pada masa ini manusia purba telah mampu berdiri dengan tegak, oleh karena itu ia menamainya Pithecanthropus Erectus yang berarti manusia kera yang berjalan dengan tegak.

3. Dilluvium Atas
Di lapisan ini ditemukan fosil manusia purba termuda yang ditemukan di Ngandong, kemudian diberi nama Homo Soloensis. Sedangkan fosil manusia purba yang ditemukan di Wajak (Tulungagung) dalam jenis yang sama diberi nama Homo Wajakensis.

Kebudayaan Manusia Purba Indonesia

Meski kehidupan pada zaman purba dikenal sangat primitif namun mereka sudah mengenal yang namanya kebudayaan, baik itu berupa kebudayaan batu tua atau yang disebut Palaeolitchicum. Kebudayaan tersebut banyak ditemukan di wilayah Pacitan dan Ngandong.

Kebudayaan daerah Pacitan, peralatan hasil kebudayaan Pacitan tergolong sangat sederhana, bahan yang digunakan pun hanya batu dengan pembuatan yang sederhana seperti kapak genggam.
Kebudayaan Ngandong, di Ngandong ternyata telah melakukan sedikit perkembangan dengan tidak hanya menggunakan kapak genggam dari batu, namun juga mulai menggunakan tulang. Penggunaan tulang berfungsi untuk penusuk dan pengorek tanah untuk mengambil ubi dan keladi. Homo Soloensis dan Homo Wajakensis diperkiran sebagai pemilik kebudayaan ini pada masa Dilluvium Atas.

Pola Hidup Manusia Purba Indonesia

Pola hidup manusia purba dapat kita ketahui dengan menilai peralatan yang digunakan pada masa itu. Berdasarkan penelitian atas fosil-fosil tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Manusia purba belum mengenal yang namanya bercocok tanam atau dunia agraris. Mereka memperoleh makanan langsung dari alam, baik dengan jalan berburu, mengambil buah-buahan yang ada, dan sebagainya.
Manusia purba masih tinggal secara nomaden atau tinggal dengan berpindah-pindah baik secara berkelompok ataupun sendiri-sendiri.

Penyakit yang Meimpa Bung Karno Jelang G30SPKI Penyakit yang Meimpa Bung Karno Jelang G30SPKI

Penyakit yang Meimpa Bung Karno Jelang G30SPKI – G30S/PKI merupakan kejadian bersejarah yang terjadi di Lubang Buaya, dalam kejadian ini dikabarkan presiden Soekarno dalam kondisi kritis dan beresiko meninggal.

“Menurut Profesor Wu, keadaan kesehatan Paduka Yang Mulia Bung Karno cukup kritis. Tentu saja bukan berarti tidak ada kemungkinan sembuh. Tapi dua kemungkinan terburuk bisa menimpa Paduka, yaitu kemungkinan lumpuh atau meninggal,” demikian suara tim dokter kepresidenan dalam film yang dirilis pada 1984 itu.

Taomo Zhou, Asisten Profesor di Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura, menguraikan kondisi Sukarno menjelang G30S/PKI. Laporannya bertajuk ‘China dan Gerakan 30 September’ dimuat dalam Jurnal ‘Indonesia’ Volume 98, tahun 2014, terbitan Cornell University Southeast Asia Program.

Kondisi kesehatan Sukarno yang buruk membuat pikiran-pikiran kotor kudeta tumbuh di benak para politikus. Ada pihak yang hendak menggantikan Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia bila akhirnya Sukarno meninggal dunia.

Benar, Republik Rakyat China (RRC) memberikan bantuan medis kepada Sukarno pada awal 1960-an. Namun, pada 1965, kondisi kesehatan Bung Karno tidaklah seburuk yang dispekulasikan oleh sarjana-sarjana Barat. Baik Beijing maupun PKI tidak berpendapat Bung Karno bakal segera meninggal dunia saat itu.

Desember 1961, Duta Besar RI untuk China, Sukarni, dan Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri RRC, Chen Yi, mengadakan pertemuan. Sukarni mengatakan bahwa Bung Karno minta bantuan kepada China.

“Sukarno telah bersembunyi dari Amerika Serikat (AS) dan mencari bantuan dari China untuk masalah kesehatannya,” demikian tertulis dalam laporan Wakil Perdana Menteri Chen Yi dalam pertemuan dengan Dubes RI ke China, 22 Desember 1961.

Baca Juga :Sejarah Penemuan Sel

AS sudah tahu duluan mengenai kondisi kesehatan Bung Karno sejak akhir 1964. Pada akhir 1964, Dubes RRC untuk RI Yao Zhongming melaporkan bahwa media Barat telah memberitakan kemungkinan Sukarno mundur dari jabatannya karena alasan kesehatan. Namun tak satu pun media di Indonesia yang memberitakan soal itu. PKI juga tidak terlalu memperhatikan isu ini.

Ternyata sumber informasi soal berita kesehatan Sukarno berasal dari dokter di Wina, Austria. Dokter itu mengaku menemukan batu di ginjal kanan Bung Karno. Dokter itu memprediksi Bung Karno bakal meninggal dunia dalam kurun waktu tiga bulan bila batu ginjal itu tidak diangkat lewat operasi bedah.
China mengirimkan bantuan. November 1964, tim medis yang dipimpin urologis Dr Wu Jieping tiba di Indonesia. Mereka tidak setuju dengan diagnosis dokter di Wina, Austria. Dokter China mengatakan Bung Karno bukan sakit gara-gara batu ginjal (meski ada pula masalah ginjal), melainkan karena masalah kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).

Tim medis menyampaikan diagnosis, resep, dan perawatan, seperti akupunktur dan obat herbal. Sukarno dinilai lebih sreg dengan kapsul herbal China, cenderung sedikit overdosis. Misalnya resep menginstruksikan agar obatnya lima kali butir saja, tapi Sukarno menelannya enam butir. Dokter China kecewa terhadap sikap Bung Karno.

Sejarah Penemuan Sel Sejarah Penemuan Sel

Sejarah Penemuan Sel – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang sejarah ditemukannya sel yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

Sejarah penemuan sel diawali pada 1665. Saat itu, Robert Hooke –seorang ahli biologi kebangsaan Belanda mengamati sebuah sayatan gabus batang tanaman Quercus suber menggunakan mikroskop rancangannya. Dari pengamatan itu, ia kemudian menemukan adanya banyak ruang kosong dengan dinding tebal sebagai pembatasnya. Ruang-ruang kosong yang ditemukan Hooke ini, olehnya kemudian dinamai dengan istilah cellulae atau sel. Sel yang ditemukan Robert Hooke sebetulnya adalah sel-sel gabus mati. Kendati begitu, hasil kerja Hooke inilah yang kemudian membuka sejarah penemuan sel sehingga menjadi pioner dalam perkembangan teori dan teknologi sel di masa kini.
Sejarah Penemuan Sel

Hasil kerja Hooke telah menarik minat Antonie van Leeuwenhoek (1632–1723) untuk mempelajari lebih dalam tentang rahasia kehidupan terkecil di muka bumi. Ia merancang mikroskop kecil berlensa tunggal untuk memuluskan niatannya. Mikroskop tersebut ia gunakan untuk mengamati air rendaman jerami. Dari pengamatan yang dilakukannya, Antonie menemukan adanya organisme yang bergerak-gerak dalam air yang diamatinya itu. Organisme tersebut kemudian dinamai dengan istilah bakteri. Karena pengamatan tersebut Antonie van Leeuwenhoek dianggap sebagai orang pertama yang menemukan sel hidup dalam sejarah penemuan sel.

Perkembangan Teori dalam Sejarah Penemuan Sel

Dari penelitian yang dilakukan Robert Hooke dan Antonie van Leeuwenhoek, sejarah penemuan sel dilanjut dengan perkembangan teori dan penemuan-penemuan baru. Beberapa ahli yang mendalami teori sel tersebut misalnya Schleiden (1804–1881), Theodor Schwan (1810–1882), Max Schultze (1825–1874), Rudolph Virchow (1821–1902), Robert Brown (1812), Felix Durjadin (1835), dan Johanes Purkinye (1787–1869)

a. Sel Merupakan Kesatuan atau Unit Struktural Makhluk Hidup

Pada tahun 1829, Jacob Schleiden melakukan penelitian dan pengamatan terhadap mikroskopis sel tumbuhan, sementara secara hampir bersamaan Theodor Schwan juga melakukan pengamatan serupa dengan objek yang diamati berupa sel hewan. Dari pengamatan tersebut, keduanya menari teori bahwa “sel merupakan kesatuan atau unit struktural mahluk hidup”. Secara lebih jelas, teori tersebut dijabarkan sebagai berikut:

Setiap makhluk hidup terdiri dari sel.
Sel adalah unit struktural terkecil pada makhluk hidup.
Organisme bersel satu terdiri dari satu sel (uniseluler), organisme yang tersusun lebih dari satu sel disebut organisme bersel banyak (multiseluler)

b. Sel Sebagai Unit Fungsional Makhluk Hidup

Penelitian mendalam tentang sel dilanjutkan oleh Max Schultze di tahun 1845. Penelitian yang membuka babak baru dalam sejarah penemuan sel tersebut menghasilkan teori bahwa dalam sel terdapat bagian bernama protoplasma. Protoplasma adalah dasar fisik kehidupan yang bukan hanya bagian struktural sel, melainkan juga sebagai tempat berlangsung reaksi-reaksi biokimia kehidupan. Berdasar hasil penelitian inilah Schultze mengemukakan teori bahwa sel adalah kesatuan fungsional kehidupan.

c. Sel Sebagai Unit Pertumbuhan Makhluk Hidup

Pada tahun-tahun berikutnya, Rudolph Virchow juga melakukan penelitian mendalam terhadap ilmu sel. Dari penelitian tersebut ia mengemukakan teori omnis cellula ex cellulae yang artinya semua sel berasal dari sel sebelumnya. Dari teori tersebut, sejarah penemuan sel mengungkap kenyataan baru bahwa sel adalah unit pertumbuhan makhluk hidup.

Baca Juga :Awal Mula ditemukannya Kertas

d. Sel Sebagai Unit Hereditas Makhluk Hidup

Kemajuan IPTEK telah mendorong penemuan unit-unit hereditas yang ada dalam inti cell atau nukleus. Unit hereditas dalam sel yang disebut kromosom itu adalah unit pembawa sifat bagi perkembangbiakan sel. Melalui penelitian beberapa orang berikut ini teori sel adalah unit hereditas mahluk hidup menjadi kian berkembang.

Robert Brown (1812). Ahli biologi Skotlandia ini menemukan sebuah benda terapung berukuran kecil di dalam cairan sel. Benda tersebut dianggapnya sebagai inti sel atau nukleus.
Felix Durjadin (1835). Ahli biologi Belanda ini menemukan adanya cairan sel yang terdapat di dalam membran sel. Cairan tersebut kini kita kenal dengan istilah protoplasma.
Johanes Purkinye (1787–1869). Ahli biologi yang menjadi orang pertama pengaju istilah protoplasma.